Aku bukan pewaris. Aku perintis.
Aku tidak melanjutkan sesuatu yang sudah jadi, aku membangun sesuatu yang bahkan belum pernah ada. Dan jujur saja, aku tidak memulai dari nol. Aku memulai dari minus. Dari keterbatasan, dari kebingungan, dari banyak “nggak tahu harus gimana”.
Perjalananku penuh tantangan. Banyak hal yang tidak kelihatan dari luar, tapi terasa berat saat dijalani. Dulu, aku bukan siapa-siapa. Aku cuma anak SMP, lalu anak SMA, yang punya mimpi besar tapi belum punya arah. Aku tahu aku ingin lebih, aku tahu aku ingin keluar dari versi hidup yang itu-itu saja, tapi caranya? Aku benar-benar belum tahu.
Yang aku punya waktu itu cuma harapan. Dan doa. Kadang juga rasa takut. Takut nggak bisa, takut gagal, takut mimpi ini cuma angan-angan. Tapi entah kenapa, aku tetap jalan. Pelan, sering ragu, sering jatuh, tapi tetap melangkah. Aku belajar sambil tersandung. Aku tumbuh sambil bingung.
Sampai akhirnya hari ini, aku bisa berdiri di titik yang dulu cuma ada di kepalaku. Aku bisa kuliah di kampus besar. Masuk ke program yang tidak semua orang bisa masuki. Program unggulan. Program eksklusif. Sesuatu yang dulu rasanya terlalu jauh untuk aku sebut sebagai target realistis.
Dan yang paling kerasa bukan soal status atau pencapaiannya—tapi soal prosesnya. Tentang bagaimana hidupku perlahan membaik. Tentang bagaimana doa-doa yang dulu cuma aku bisikkan sekarang mulai menemukan bentuknya. Tidak instan. Tidak dramatis. Tapi nyata.
Aku tahu, sampai sekarang pun aku belum jadi siapa-siapa. Aku masih belajar. Masih membangun. Masih sering merasa kurang. Tapi satu hal yang aku pegang: aku sudah jauh melangkah dari versi diriku yang dulu cuma bisa bermimpi tanpa tahu caranya.
Aku tidak sampai di sini karena keberuntungan semata. Aku sampai di sini karena aku bertahan. Karena aku memilih untuk terus berjalan, bahkan saat aku tidak yakin akan sampai ke mana. Dan mungkin itulah arti menjadi perintis—berani melangkah tanpa peta, sambil percaya bahwa jalan akan terbentuk seiring langkah.
Perjalananku masih panjang. Tapi untuk pertama kalinya, aku bisa bilang ke diriku sendiri: apa yang dulu hanya ada di harapan dan doa, sekarang mulai terwujud satu per satu.
Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bersyukur.
Curhatan Tengah Malem Pt. 2
Aku tidak lahir dari kemudahan, tapi dari keberanian untuk memulai. Dan sejauh apa pun langkahku hari ini, itu sudah membuktikan bahwa mimpiku tidak pernah sia-sia.